Sabtu, 05 Februari 2011

Mari Mengenal bahasa Karo ( kata pengantar)

Bahasa termasuk kebudayaan, dan petinggi kita kalau diundang, biasanya datang dan akan memberi Kata Sambutan, dan dalam kata sam-butannya, seperti perpisahan sekolah, petinggi kita akan berkata, ”Pe-liharalah kebudayaan kita”. Pernah penulis melihat, ada satu daerah, Penilik Sekolah (PS) diundang dan datang pada acara perpisahan murid yang akan tamat, dan dalam kata sambutannya dengan suara meleng-king, ia berkata, ”Tingkatkan pendidikan.” Kebiasaan mengucapkan sua-ra melengking dan berkata, ”tingkatkan pendidikan,” selalu terdengar pada acara perpisahan di sekolah. Lain halnya dengan PS di Inggeris, yang pernah penulis lihat melalui layar TV TPI pada tahun 1980-an. Ketika PS itu datang dan bertanya kepada guru, ”Ada kesulitan bu, guru?” lalu ibu guru balik bertanya tentang kesulitannya. Sang PS menjelaskan ten-tang kesulitan ibu guru, karena PS memang me-ngetahuinya.
(Konon PS di Indonesia, PS ke sekolah tidak boleh mencari ke-salahan guru, apakah PS di Inggeris itu termasuk mencari kesalahan gu-ru?)

Bagaimana dengan pendidikan kita, katanya ada kurikulum mu-atan lokal, tetapi bahasa Inggeris yang diberikan. Menurut guru, orang saat ini cenderung ingin belajar dengan bahasa Inggeris. Ini suatu bukti bahwa ada petinggi pendidikan kita tidak mampu memotivasi anak-anak cinta kebudayaan dan membuat pelajaran muatan lokal. Sebenarnya de-ngan mengetahui seluk-beluk bahasa daerah membuat anak didik ingin belajar bahasa asing, ”bagaimana bahasa Inggeris itu, ya?” demikian da-lam benak anak-anak. Bertolak dari permasalahan seperti yang dike-mukakan tersebut, maka penulis memberi judul buku ini, ”Mari Me-ngenal Bahasa Karo” (lihat daftar isi).
Karya ini dikerjakan bukan berdasarkan penulis seorang akhli atau mempunyai pendidikan tinggi, tetapi berdasarkan pengalaman, yaitu setelah purna tugas, kepada penulis dipercayakan mengajar bahasa Indonesia pada satu yayasan di Jayapura. Selain mengajar pada yayasan, juga dipercayakan membenahi Perpustakaan SD Neg. Inpres Kotaraja, Jayapura. Ketika mengajar di Yayasan dan membenahi perpustakan itulah penulis menemukan masalah bahasa, dan jawabnya adalah terbitnya buku ”Mari Mengenal Bahasa Karo) ini.
Untuk menambah pengetahuan Bahasa Karo ini, turut dilampir-
kan naskah lagu Karo sebanyak 6 buah.

Demikianlah Kata Pengantar ini dibuat dan menurut penulis ka-rya ini sudah baik, tetapi menurut pembaca mungkin ada kekurangan-nya, dan penulis minta maaf atas kesalahan itu dan tolong sampaikan kepada penulis.

Bekasi, 1 Agustus 2010

Mari mengenal bahasa Karo (Sekapur Sirih)

Mulai dari Sabang, Indonesia Barat hingga Jayapura atau Ma-rauke, Indonesia Timur, budaya makan sirih adalah hal biasa. Bahkan budaya makan sirih dijadikan sarana untuk memulai sesuatu. Umpa-manya, sebelum memasuki acara puncak, diadakan acara tukar kampil, yang isinya di antaranya: sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau, kalau ada, dan seperangkat alat untuk merokok. Masing-masing pihak membuka kampil dan mengambil isinya lalu mengunyah sirih itu serta menyatakan, isi kampil lengkap. Sebab kadang-kadang ”anak beru yang nakal” tidak melengkapi isi kampil, mungkin kapur atau gambir tidak ada dalam kampil itu.
Apabila masing-masing pihak menyatakan, sudah lengkap, ma-ka dimulailah pembicaraan acara, membicarakan hal-hal yang berhu-bungan dengan acara kemudian hari.
Ketika penulis berumur 26 tahun, kampung Biru-Biru ditinggal-kan; pindah dan berdomisili di Papua. Selama 44 tahun di Papua, penulis belum pernah mendengar orang berucap, aku Karo-Karo ini, aku Karo-Karo itu, pada hal ”komunitas” Karo-Karo di Papua banyak. Sebenarnya istilah ”komunitas” di sini kurang tepat, dengan demikian kata ”komu-nitas” dipakai bersifat pinjam.
Adapun Karo-Karo Barus, Karo-Karo Sitepu, ataupun Karo-Karo lainnya, langsung menyebut cabangnya saja (Barus, Sitepu) kalau ia bertutur, tidak menyebut pokok atau tidak menyebut Karo-Karo, dan inilah satu bukti bahwa mereka tinggal berdekatan, atau tinggal di lingkungan sendiri, yang kalau ”bertutur” tidak perlu menyinggung Ka-ro-Karo-nya. Kebiasaan tidak menyebut menyebut pokok (Karo-Karo) itu sudah terbiasa kepada anak cucu sehingga seperti Komunitas Karo-Karo Jayapura itu. Tidak seperti Tarigan, Tarigan semua mengaku Ta-rigan saja, padahal Tarigan mempunyai 13 cabang. Orang tua tidak mengajarkan, kamu harus memakai Tarigan ini, atau Tarigan itu, tetapi Tarigan terdahulu berusaha menunjukkan ke-satu-an Tarigan. Dan ke-pada Tarigan ada julukan ”Tarigan Perbual”, perbual yang artinya tu-kang bual. Memang Tarigan perantau, oleh karena itu, merga Tarigan di mana saja selalu menunjukkan sikap ke-satu-an Tarigan; satu Tarigan. Tidak seperti komunitas Karo-Karo itu, seperti Barus kemulihennya {bu-ku P. Tambun menyebutkan, pengulihen 1)*} di Barus Jahe, Surbakti kemulihennya di Surbakti dan Gajah, Sinukaban di Pernantin dan Kaban Tua, Purba di Kaban Jahe, Berastagi, dan Lau Cih, Ketaren di Raja, dan Sibolangit, Gurusinga di Gurusinga dan Raja Berneh, Kaban di Sumbul, Sinuhaji di Ajisiempat, Kemit Kuta Bale, Bukit di Bukit, Buluh Awar, Sinuraya di Bunuraya, dan Kandibata, Samura di Samura, Sitepu di Naman, dan Sukanalu. Ada satu Karo-Karo yang menyebut dirinya, Karo Sekali yang kemulihennya di Siberaya 1*), mengapa mereka me-nyebut dirinya Karo Sekali, apakah dari Karo Sekali asal-usul ko-mu-nitas Karo-Karo?
Masih ada komunitas Karo-Karo yaitu disebut Kacaribu, Sinu-bulan, dan Jung, penulis belum pernah bergaul dengan mereka sehingga, apakah mereka menyebut Karo-Karo juga atau menyebut cabang saja, bagi penulis belum jelas.
Tanah kemulihen komunitas Karo-Karo itu sebagian besar ber-ada di sekitar Gunung Sibayak dan sebagian Gunung Sinabung. Kedua gunung itu berada di tengah-tengah Tanah Karo, sehingga semua orang berpatokan dan mengaku dirinya orang Karo, walaupun ia bermerga Sembiring, Ginting, Perangin-angin, dan Tarigan, itulah asal-usul nama daerah Karo. Kemudian, kebiasaan Pemerintah Kolonial Belanda, me-nentukan daerah ditentukan berdasarkan bahasa, Adat-Istiadat, dan alam maka disebutlah Daerah Tanah Tinggi Karo.
Akan hal mengaku dirinya orang Karo, seperti batu konglome-rat, batu kecil yang hanyut dari hulu dan kemudian mengendap pada sebuah lubuk, batu-batu yang sebesar tinju dan kecil-kecil yang berwar-na hitam, coklat, merah, dan lain-lain, maupun pasir-pasir menyatu membuat batu konglomerat yang keras dan kokoh. Demikian pula hal penduduk Tanah Karo, selama orang datang di Tanah Karo dapat me-nyatu dan asal tidak menyinggung perasaaan penduduk setempat, maka orang itu akan selamat tinggal di Tanah Karo.
Dengan uraian di atas dapat diketahui bahwa pusat budaya Karo berada di sekitar Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung itu. Kemudian, karena manusia adalah benda hidup sehingga peradabannya berkem-bang terus, seperti Karo Singalor Lau (maksudnya Sungai Wampu), dan ke Perbatasan Deliserdang dialek bahasanya sedikit berbeda, demikian pula Karo berbatasan Simalungun, juga dialeknya sedikit berbeda, tetapi struktur bahasanya tetap sama. Bukan saja bahasa dipengaruhi, tetapi budaya juga dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Oleh karena itu, jangan-lah ada merasa kebudayaannya lebih hebat sehingga ia menyinggung perasaan orang lain. Lebih baik kita introspeksi diri kita daripada me-nyinggung perasaan orang lain. Orang yang suka menyinggung perasaan orang lain adalah orang Kuper (kurang pergaulan).
Dalam memperdalam budaya, anak-anak di kampung sudah dia-jari berbahasa Indonesia, seperti kalimat, Habisku nanti, pak, aku tidak mau kongsi. Peristiwa ini adalah, bapaknya membeli makanan, anaknya tidak mau berdua satu bungkus, maka muncullah kata, ’kongsi’. Kata kongsi adalah berasal dari perkumpulan dagang Belanda, tetapi karena pada bahasa Karo tidak mengenal berdua atau bertiga maka dipakailah kata kongsi dalam pembagian benda atau makanan. Demikian pula de-ngan kata ’Habisku’, itu dipakai penjelmaan dari kalimat inversi, yaitu kalimat predikat mendahului subjek, memang demikian bahasa Karo (lihat halaman 103 – 109).
Sebenarnya kalau berbahasa biasanya kata-kata sudah tersusun dalam benak sehingga kita mendapat wacana yang baik. Bagaimana ka-lau kata-kata dipakai bahasa Indonesia, tetapi struktur bahasa dipakai struktur bahasa Karo maka wacana yang didapatkan adalah lucu bagi orang lain.
Akan hal kalimat, Habisku nanti, pak, aku tidak mau kongsi, à habis à verba, -ku = aku, bila dijadikan kalimat aktif à Saya satu bungkus, habis, saya tidak mau berdua. Sudah jelas terlihat perbedaan kalimat inversi dengan kalimat aktif.
Memang pengajaran bahasa Indonesia pada saat ini, hendaknya kita bijak, sebab sebelum tahun 1970 belajar bahasa Indonesia, mulai dari SD hinga SLTA mempelajari tentang afiks atau imbuhan, pokok kalimat dan lain-lain, tetapi saat ini, tentang imbuhan dan lain-lain itu diserahkan kepada daerah masing-masing {yang disebut LKS (Lembar Kegiatan Sis-wa)}, akibatnya pengetahuan bahasa Indonesia tidak merata.
Demikianlah kata-kata Penulis dalam Sekapur Sirih ini.

Jumat, 04 Desember 2009

RINGKASAN CERITERA PAWANG TERNALEM



Pawang Tenaem adalah nama orang yang terdiri dari dua kata, Pawang Ternalem. “Pawang” berarti orang yang mampu mengendalikan binatang dan “Terna-lem” adalah dapat diharapkan menyelesaikan tugas yang diembankan kepadanya. De- ngan demikian, Pawang Ternalem secara harfiah artinya orang yang mampu mengen- dalikan binatang dan dapat menyelesaikan tugas yang diberikannya. Sebelum orang itu berama Pawang Ternalem, kepadanya disebut “Anak Sembiring Mergana” yaitu anak dari yang bermarga Sembiring Kembaren. Tidak sempat diberikan kepadanya nama sesungguhnya, karena sesuatu hal telah menimpa orangtuanya.
Dalam penanggalan Karo, satu bulan lamanya 30 hari yang urut-urutannya ada- lah: Aditia, Suma pultak, Nggara teluari, Budaha, Beras pati pultak, Cukera enem ber-ngi,, Belah naik, Aditia naik, Sumana siwah, Nggara sepuluh, Budaha ngadep, Beras pati tangkep, Cukera lau, Belah purnama, Tula, Suma cepik, Nggara nggo tula, Budaha gok, Beras pati sepuluh siwah, Cukera dua puluh, Belah turun, Aditia turun, Suma, Nggara simbelin, Budaha medem, Beras pati medem, Cukera mate, Mate bulan, Dalan bulan, dan Samisara. Dan setiap penanggalan/hari Karo, bagi orang Karo mempunyai arti ter-sendiri, umpamanya yang lahir pada (wari) Suma, kelak orang itu akan menjadi pencuri atau simpatik terhadap pekerjaan pencuri. Kalau ia lahir pada hari Belah purnama kelak orang itu akan menjadi terhormat dan membawa kemuliaan bagi keluarga, dan kalau lahir pada hari Tula maka orang itu akan mendatangkan petaka ke dalam keluarganya.
Kadang anak yang masih dalam kandungan, orangtuanya membawanya ke du-kun untuk mengetahui hari kelahahiran bayinya. Untuk itu sang orangtua akan mendatangi GURU SI METEh WARI (dukun yamg mengetahui hari baik atau hari buruk). Persyaratannya, membawa telur ayam tanpa cacat atau apabila ditetaskan akan menjadi anak ayam. Telur ayam direbus dan setelah masak, si guru meteh wari akan menetak-kannya pada pinggir piring, lalu mengupasnya dengan sungguh hati-hati. Acara mene-takkan telur disebut “niktik wari”. Telur diamati dengan cermat lalu guru si meteh mem-punyai penglihatan, dan dinyatakanna, apa yang terlihat olehnya, umpamanya anak akan lahir pada hari Tula. Ramalan guru akan dinyatakan, anak akan lahir pada Tula, apabila orangtua mendengar anak lahir pada hari Tula, hati orangtua gundah, dan biasa dian-tisipasi denghan mengadakan upacara yang disebut “ngarkari”, keluarga dikarkari agar tidak terkena dampak hari kelahiran anak.
Demikianlah, setelah Anak Sembiring Mergana mengetahui akan lahir pada ha-ri Tula, hari garang, seluruh keluarga cemas. Mereka khawatir bala akan menimpanya. Demi menjaga agar bala tidak menimpa, Anak Sembiring Mergana, ada usaha untuk mengenyah dari dunia dengan berbagai cara, di antaranya meletakkannya di pintu ger-bang kampung dengan harapan terinjak oleh kerbau, yang kala pulang kerbau berdesak-desakan. Ternyata harapan terinjak kerbau gagal karena kerbau enggan kepada bayi Anak Sembiring Mergana. Masih saja ada usaha untuk membunuh Anak Sembiring Mergana, tetapi tetap gagal. Ibu-ibu yang meneteki selalu berganti-ganti karena kha-watir terkena bala. Anak Sembiring Mergana tetap hidup dan usianya menanjak remaja. Dalam liku-liku hidup di kampung, pada suatu saat ia ikut pedagang dari Tanah Tinggi Karo ke pantai, tempat banyak pedagang garam dan lain-lain. Dalam perjalanan me-lewati hutan belukar, Anak Sembiring Mergana tersasar, hilang dari rombongan peda-gang. Terpaksa Sembiring Mergana mencari jalan sendiri di hutan, kadang bertemu de-ngan ular besar, kadang harimau dan lain sebagainya. Tetapi karena Sembiring Mergana lahir pada hari Suma, hari garang, binatang buas juga pantang memangsanya, yang akhirnya sampai pada tempat, tempat Datuk Rubia Gandai, yang adalah seorang dukun tersohor ilmunya. Anak Sembiring Mergana diganti namanya menjadi Pawang Ternalem oleh Datuk Rubia Gandai. Datuk Rubia Gandai mengharapkan Pawang Ternalam mam-pu menundukkan anak Pengulu (penghulu) Kampung Jenggi Kumawar bernama Beru Patimar yang terkenal sombong dan angkuh. Anak Sembiring Mergana yang sudah berubah nama, mejadi Pawang Ternalem akan berusaha sekuat tenaga mempersunting Beru Patimar. Semula Pawang Ternalem dihina-hina, tetapi akhirnya Pawang Ternalem berhasil mempersunting Beru Patimar, namun sayang ……….Pawang Ternalem me-ninggal dunia. Beru Patimar jatuh menjadi janda.

Sekapur Sirih

Syaloom,

Selamat bertemu bagi semua penggemar dunia maya yang kebetulan mampir ke blog saya.

Saya adalah seorang pendatang baru di dunia maya yang ingin ikut berkontribusi dan berbagai cerita dengan semua orang.

Semoga tulisan-tulisan saya memberi manfaat dan inspirasi..

Selamat menikmati